Sandiwara Drakula Pak Beye
Drakula! Kata ini makin sering didengar, dibaca, dan diucapkan, setelah Presiden SBY menyampaikan pidatonya pada 17 Juli 2009. Drakula, seperti yang kita saksikan di film-film, selalu ditampilkan sebagai sosok kharismatik penuh pesona. Kalimat yang dituturkannya lembut serta rapi terukur dan dibalut sikap santun bangsawan.
Dengan citra pesonanya ia membuai siapa pun yang dikehendakinya. Bujuk rayu romantisnya membuat terkesima, siapapun yang mendengarnya, biasanya perempuan. Setelah orang yang dijeratnya pasrah dalam peluk hangat, sang drakula menunjukkan wajahnya yang lain.
Dari mulutnya muncul taring tajam. Kemudian taring itu ditancapkan pada leher korbannya, dan darah korban pun dihisap habis. Saat itulah korbannya baru menyadari siapa sebenarnya sosok yang ia cintai. Penyesalan sudah terlambat, ia pun mati lemas.
Penyesalan memang selalu datang terlambat. Bujuk rayu dan pemberian materi begitu mudah mengaburkan daya nalar. Lihat saja bagaimana rakyat Indonesia terjebak dengan iklan sekolah gratis. Gratis menurut rakyat, ternyata tidak sama dengan arti gratis menurut pemerintah. Demikianlah mendiknas Bambang Sudibyo berkelit.
Mendengar kilah sang menteri, kita teringat pada iklan provider seluler, gratis dengan syarat dan ketentuan berlaku. Layaknya ikan, rakyat miskin ia kail dengan umpan BLT. Peneliti LIPI, Ikrar Nusa Bakti pernah bercerita ia bersama peneliti lainnya kerap dihantui telepom-telepon seram ‘dari Istana’.
Ya, 2009 adalah tahun di mana drakula bergentayangan. Ia menghisap darah siapa pun yang menurutnya berpotensi berani pada penghuni Istana. Media dirasuki, hingga tak sanggup berkata saat difitnah telah ‘memelintir’ sebuah pidato. Semua komponen negara dihipnotis agar mau mengikuti kehendaknya.
Darah baru demokrasi yang baru berumur 11 tahun diedot habis, tatanan demokrasi yang disusun dengan nyawa rakyat kini dihancurkan, digantikan dengan mokrasi ‘drakrasi’, demokrasi cara drakula.
September 8, 2009 pada 9:13 pm
Salam Takjim
Drakula ini senang pakai jubah biru dong bu
Salam Takjim Batavusqu
September 10, 2009 pada 9:35 pm
Tentang sekolah gratis aku punya cerita.
Suatu kali aku terlibat dialog dengan seorang kepsek SD.
Sekolah yang dia pimpin memang bisa berjalan dengan mode “gratis” tapi ya itu tampilannya amat standar karena jatah dari pemerintah terbatas. Yah, mirip laptop pas milih opsi batterey maximum. Sebentar sebentar layar mati. Animasi menghilang………
Sementara tuntutan stake holder tentu saja prestasi maximum, banyak kegiatan biar sang anak maju, ikut ini dan itu.
Mau pilih yang mana ?
Pilihan ada ditangan ortu alias wali murid.
Kepsek hanya ekskutor.
April 13, 2010 pada 3:01 am
Fakta tentang Drakula
http://kautsarku.wordpress.com/2010/04/11/kekejaman-drakula-terhadap-umat-islam-eksistensi-historis-dracula-yang-membantai-ribuan-muslim/
penting..