Pilih SBY..? “Jangan..!!! Otaknya Cuma Rubah”

Aku dulu pemilih SBY-JK, sangat aspiratif bahwa mayoritas rakyat kita mengingingkan ini tetapi SBY telah melawan arus aspirasi bangsa ini, ada apakah…..? aku menganggap dengan memilih Boediono kekuatan asing sedang memainkan kekuatannya kembali di bumi pertiwi ini. Hal ini bisa dipahami dengan tetap berpasangan dengan JK di mana JK dikenal sebagai anti barat atau kerennya neolib, demikian pula dengan Mega, semua tahu sebagai warisan biologis proklamator Soekarno, kita semua masih ingat peran beliau di dalam menggalang kekuatan untuk melawan hegomoni AS masa itu. Akhirnya jadilah SBY-Boediono, jadi pula kehilangan satu suara dari aku.

Disebut SBY melawan arus karena semua survey mengatakan tetap SBY-JK, umumnya pendapat para pengamat juga demikian, malahan para petinggi militer bangsa ini juga demikian, dan aku pun juga demikian. Sayang abang sayang SBY tidak demikian, SBY nampaknya tidak menginginkan ada dua matahari di istana, padahl hal ini sangat dibutuhkan untuk mencerahkan bangsa ini karena selama 64 tahun merdeka bangsa ini tidak bisa bangkit yang setiap harinya hanya menikmati satu matahari. Lima kali kita dipimpin presiden dengan satu matahari sejak Soekarno, Soeharto, BJ. Habibie, Gus Dur, dan Mega, semuanya tampil dengan kekuatan satu matahari, presiden ibarat bos dan wapres betul-betul hanya sebagai pembantu, bangsa ini malah keok dari arus globalisasi. Tetapi sejak presiden ke enam SBY-JK secercah harapan itu ada menuju kebangkitan dengan kekuatan dua matahari, JK Wapres sangat optimal memainkan peran itu, tidak sebatas pembantu belaka, sebenarnya sangat padu, SBY lamban dan JK gesit, artinya resonansi irama yang dihasilkan sangat eksplosif. Namun sekali lagi sayang abang sayang SBY telah melawan arus. Perceraian ini membuat begitu banyak energy, waktu, dan rupiah yang harus terbuang karena dengan 3 pasangan capres yang bertarung sangat jelas Pilpres akan berlangsung 2 putaran. Sebabnya para capres merupakan pemenang Pileg urutan satu PD SBY, urutan dua Golkar JK, dan urutan tiga PDIP Mega. Walaupun 1000 lembaga survey dikerahkan dan dibayar mahal oleh konsultan kampanye SBY The Fox (Rubah), termasuk libatkan juga punya Hermawan Kertajaya, dan hasilnya 100% memilih SBY Boediono, tidak akan pernah merubah peta kekuatan politik di atas. Sungguh sayang abang sayang, jika SBY-JK tetap solid putaran pilpres cukup sekali saja, dan aku tidak perlu melakukan postingan untuk tulisan semacam ini, artinya berapa banyak waktu, energy dan duit yang bisa dihemat. Yang merasakan enaknya pilpres dua putaran cuma dua; bisnis media dan bisnis tim sukses. Tapi rakyat setiap hari, setiap tempat, dengan siapa saja, melakukan debat kusir dukung-mendukung karena yang mereka saksikan juga para capres cuma debat kusir belaka, nyaris dikatakan hanya fenomena kebohongan yang saling ganti berganti.

Aku bicaranya vulgar alias blak-blakan bahwa sebaiknya aku, anda, kalian dan kita semua tidak usah lagi memilih SBY, maaf ini bukan propaganda negatif-anggap saja bahan pembelajatan bagi kita semua karena puja dan puji hanya akan membawa malapetaka -, dengan berbagai alasan sebagai berikut :

1. Selama 4, 5 tahun SBY bisa dikatakan tidak dapat berbuat banyak membangun pondasi bangsa ini, contoh kecil bahwa masalah kemiskinan selalu menjadi prioritas utama dalam pembangunan berdasarkan data Podes 2004 angka kemiskinan mencapai 34 juta jiwa dan Podes 2006 angka kemiskinan meningkat 37 juta jiwa, Podes selanjutnya belum ada namun diperkirakan angka kemiskinan itu masih dikisaran tersebut. Ironisnya angka kemiskinan bertambah tapi utang luar negeri kita juga bertambah, seperti yang dilansir Rizal Ramli Capres yang tidak punya partai ET pendukung. Angka kemiskinan yang tidak berubah ini, tidak usah perlu banyak survey bahwa angka pengangguran juga masih cukup tinggi, jadi apa yang selama ini diperbuat SBY untuk membuka lapangan kerja, semuanya nol besar. Solusi dengan BLT, Raskin, dan gaji 13 semua hanya obat penguat rasa malas. Ironinya malah ini yang dibanggakan SBY. Jadi apa yang mau dilanjutkan..???

2. Perkembangan perekonomian kita yang diukur dengan digit angka pertumbuhan selama ini hanya berkisar antara 2 sampai 4 % saja, maknanya bahwa pertumbuhan perekonomian dengan angka ini berlangsung secara alamiah saja, karena di dorong naluri bisnis para pelaku bisnis saja. Peran atau stimulus pemerintah sangat kecil. Jadi apa yang mau dilanjutkan..???

3. Dikatakan SBY bisa memperbaiki tatanan pondasi perekonomian bisa lebih baik 5 tahun ke depan dengan menggandeng Boediono, ini hanyalah hiperbola dan omong kosong besar. Boediono dengan sosok pendiam dan tidak banyak bicara itu, bukanlah sosok yang cerdas, cuma pandai saja. Cerdas dan pandai itu beda, kita mungkin pandai menjelaskan sesuatu dan melaksanakan sesuatu tetapi tidak mungkin cerdas agar orang lain bisa melakukan hal yang sama. Boediono bukan tipikal pendobrak yang diharapkan melakukan terobosan-terobosan cerdas, malah mungkin akan menambah kelambanan SBY. Jika Boediono sosok yang cerdas, pertanyaannya pretasi apa yang dicapai Boediono ketika menjadi menteri perekonomian di jaman Mega, malah sejumlah BUMN di jual kepada investor asing. Boediono hanya sosok tipikal dosen atau operator bank saja misalnya Direktur. Malah pada jaman ini Bank Indonesia atas kebijakan kabinet mengucurkan dana kepada para pengusaha sebanyak 600 trilyun, umumnya pengusaha yang mendapat kucuran dana ini adalah para donatur partai dan capres. Jadi apa yang mau dilanjutkan…?

4. Dikatakan jangan pilih SBY karena otaknya cuma rubah, karena hanya SBY yang sok paten menggunakan jasa konsultan The Fox (Rubah) yang dibayar mahal itu. Citra SBY adalah citra Rubah. Siapa tim Rubah ini adalah para alumni Ph.D AS yang ditukangi 3 brother Andi Mallarangeng. PD koq percaya sama orang ini, emang selama ini apa yang menjadi prestasi mereka, tidak lebih celebrity pedagang intelektual belaka. bagi kalian yang milih SBY karena motivasi primordial, sebaiknya lupakan saja karena otak SBY The Rubah ketiganya merupakan putra Bugis sekampuang dengan JK. Lho…, kenapa mereka tidak mendukung JK, itu persoalan strata budaya alias “darah biru”. Dalam tradisi Bugis Bone tidak mungkin seorang ningkrat menghamba kepada rakyat biasa walaupun orang itu adalah pejabat penting seperti JK. Jika di putaran kedua pilpres head to head SBY-Boediono vs JK-Wiranto, ini adalah drama pertarungan para putra Bugis Bone di tanah Batavia. JK Bone sebagai pelaku utama, disisi lain SBY dengan sutradara The Fox. Jadi lupakan saja milih presiden dengan asumsi dikotomi Jawa dan Luar Jawa, ini namanya ekstrim kiri, ekstrim kanan jika pasangan itu adalah pasangan Pilkada.

Demikian 4 alasan dari berpuluh alasan yang akan aku kemukakan, agar tidak usah memilih SBY lagi, cukup presiden sekali saja, pilih saja si kumis dengan jilbab loro, kalau tidak suka, pilih saja Bu Mega si tahi lalat dengan pembantu jomblonya. Tidak mau memilih juga, jangan Golput pilih saja aku si urakan politik.

Jangan marah dengan postingan ini, kalau kalian tidak suka, sebaiknya lupakan saja. Aku kan cuma urakan politik opinion.

Salam Mind Blogger

Tags: SBY-No

3 Tanggapan to “Pilih SBY..? “Jangan..!!! Otaknya Cuma Rubah””

  1. syarifuddin Says:

    Wah…wah… Boleh juga postingannya.. Paling tidak semakin memperjelas keadaan yg sebenarnya…
    Sallam

  2. Siiipppp … saya seirama dengan pendapat Anda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: