Aura Kemenangan SBY Mulai Meredup

Dalam waktu seminggu, tiga lembaga survei mengeluarkan hasil survei mengenai elektabilitas calon presiden. Muncul tiga variasi hasil survei yang seolah saling menjawab satu sama lain.

Lembaga Survei Indonesia mengumumkan Susilo Bambang Yudhoyono-Boediono mendapat 70 persen, Lembaga Riset Informasi menyatakan SBY-Boediono mendapat 33 persen dan belakangan muncul Lembaga Penelitian, Pendidikan dan Penerangan Ekonomi dan Sosial (LP3ES) yang menyatakan SBY-Boediono mendapat 54 persen.

Meski beda metodologi, namun perbedaan mencolok ketiga lembaga survei ini membuat tudingan pengumuman hasil survei ini ditujukan untuk membentuk opini merebak. Pengumuman hasil survei dinilai menimbulkan efek bandwagon atau efek yang membuat orang mengikuti apa yang dipercaya sebagai “yang menang.”

Dari hasil pemaparan di atas, baik LSI maupun LP3ES menempatkan pasangan JK-Wiranto dan Mega-Pro hanya mendapat suara dibawah 10 %. Hasil ini memang dapat dikatakan sangat aneh bin ajaib, LSI malah mengaku dibiayai oleh The Fox (konsultan SBY), sedangkan LP3ES mengaku hanya menggunakan biaya sendiri tanpa sponsor. Sepertinya ke dua lembaga survey ini sudah di setting sedemikian rupa, bahwa apa yang dilakukan oleh The Fox membiayai survey itu hasilnya tidak jauh berbeda dengan lembaga survey lain yang sama sekali tidak menggunakan sponsor. Kesimpulan cerita ini lahir dalam diskusi beberapa teman saat berada di Jakarta, kemudian seorang teman saya nyeletuk ketus, “The Fox memang Musang berbulu domba.”

Secara sederhana saja jika dibandingkan pada hasil Pileg kemarin dimana PD meraih kemenangan besar, artinya penurunan suara baik dari Partai Golkar maupun PDIP sudah merupakan ambang batas kejenuhan di mana suara ke dua partai itu sudah merupakan pemilih loyal yang tidak diragukan lagi tetap akan memilih Golkar dan PDIP. Dengan demikian jika pemilih Golkar saja yang memilih JK-Wiranto hasil terburuknya adalah minimal 15 %, demikian pula Mega hanya 14 %. Hasil ini memberi kesan bahwa hasil survey tersebut sangat dipaksakan hasilnya dengan rekayasa tertentu. Tujuan utamanya adalah membentuk opini (bandwagon) bahwa SBY menang di putara pertama. Tapi benarkah hasil ini bisa memberi efek demikian…? Secara hitungan kasar saja jika perbandingan persentase suara jawa-luar jawa = 75 % – 25 %, voter dengan sentimen emosional ke daerahan saja terhadap JK diwilayah sulawesi, Maluku, Ambon, NTB, Papua, Kaltim, Sumbar, Riau dan Kepri JK-Wiranto sudah mampu meraih suara 10 %, dan dengan figur Wiranto berdasarkan pengalaman Pilpres putaran pertama 2004 mampu meraih suara 26 %, perlu diingat bahwa figur Wiranto juga mempunyai sentimen emosional kedaerahan di wilayah Jateng dan Jogya, sehingga kondisi terburuk yang bisa dicapai pasangan ini di putaran pertama bisa mencapai 30%, apakah mungkin dengan sisa suara 70 % ini SBY akan mendapat suara 51% dan hanya menyisakan 19% buat Mega-Pro, tentu hasil ini imposible. Artinya SBY juga masih berpeluang untuk kalah di putaran pertama jika JK-Wiranto mampu meraih suara antara 30-35%. Yang jelas bahwa hampir bisa dipastikan kita masih akan mencontreng di bulan September nanti, dengan berdasarkan hasil analisis capaian terburuk itu.

Secara tersirat hasil kedua survey itu sebenarnya sudah menandakan bahwa jika putaran Pilpres terjadi dua putaran, baik The Fox maupun Tim Sukses SBY-Boediono sudah berkesimpulan bahwa mereka akan kalah diputaran kedua, karena dengan perpanjangan waktu ini aura kemenangan SBY semakin meredup dan akan hilang sama sekali. Pasalnya antara tanggal 8 Juli sampai menjelang 8 September 2009, apakah SBY-Boediono akan head to head dengan JK-Wiranto atau Mega-Pro, tim The Fox akan kewalahan menghadapi serangan black campaign dari dua arah yaitu para relawan pendukung fanatik JK-Wiranto dan Mega-Pro. Apakah nanti JK kalah, posisi Wapres yang disandangnya sampai Bulan Oktober (Incumbent), akan membuat para relawan pendukung fanatiknya semakin berani melakukan perlawanan all out melakukan serangan black campaign kepada SBY-Boediono dengan mengangkat berbagai issue.

Perlu diketahui bahwa pasca cerainya SBY-JK aspirasi massa pada opini pilihan pasangan JK-Prabowo sangat besar, dengan kekalahan JK, Prabowo juga memiliki sentimen emosional ke daerahan untuk menerima swing voter JK ke Prabowo karena Prabowo juga mantan kader Golkar. Prabowo yang memiliki pendukung fanatik di Sulawesi Utara merupakan arus positif yang bisa menarik pemilih di luar pulau Jawa. Faktor ini akan semakin kuat karena cerainya SBY-JK juga melahirkan kekecewaan bagi sebagaian besar pemilih, seperti wilayah Aceh yang kemungkinan besar pada putaran pertama JK-Wiranto akan menjadi pemenang di Aceh.

Sebagai contoh kecil saja di blog kompasiana ini, sejak ketiga pasangan ini jadi kontestan Pilpres, blogger pro penentang SBY-Boediono semakin berkembang jumlahnya setiap hari dan mereka seperti tidak pernah kehabisan bahan untuk menyerang SBY-Boediono, malahan selama 1 minggu terakhir para guests blogger kompasiana sendiri terkesan menurunkan tulisan dengan tuturan cantik nyaris tidak terdeteksi menyentil kelemahan SBY dan mengangkat kelebihan pasangan lain seperti tulisan Mas Wisnu “forkabi selamatkan pak beye”. Contoh kecil lain kepada yang saya hormati Bang FB pada mulanya begitu memuja-muja Boediono, saat ini selalu menampilkan tulisan yang mencerminkan sosok sejati idealisme Bang FB di dalam mengkritisi kebijakan para Capres. Penulis public blog kompasiana semisal Bocah nDeso dan Bocah Katrok yang selama ini hanya aktif sebagai penonton saja dengan komentar-komentar yang mereka suguhkan di setiap postingan, kini malah tampil dengan tulisan-tulisan pro penentang SBY. Fenomena ini akan semakin banyak jumlahnya jika putaran kedua Pilpres terjadi. Walau ini hanya di dunia maya, tapi mereka juga tidak mungkin, malah selama ini juga menggalang relawan di lapangan.

Aura semakin meredupnya kemenangan SBY juga nampak pada kesenangannya pada angka 9, ini nampak dari sample responden LSI dengan 2.999. Menurut para penganut mistik angka 9 hanya keramat pada satu angka 9 dan 2 angka 99, jika pergerakannya sampai melebihi dua kali misalnya 2.999, maka pergerakan ini melahirkan gesekan sehingga menjadi 666, secara mistik angka 666 adalah simbol syetan. Nah, bisa anda bayangkan jika sample responden juga dari awal sudah didesign sebesar 2.999, secara pribadi pada pengalaman-pengalaman saya dibidang survey sebagai tenaga enumerator, target responden selalu tidak tercapai sampai besaran 10% karena responden tidak berada ditempat, sementara pada sisi lain sesuai metode penentuan klasifikasi responden yang sudah ditetapkan tidak dengan mudah begitu saja untuk diganti. Untuk besaran responden saja sudah ditentukan, tentunya hasilnya pun sudah ada sebelum survey itu sendiri dilaksanakan, artinya hasil survey sudah diasumsikan secara deduktif, top down, dan survey dilakukan hanya diarahkan mencari dukungan hasil induktif untuk sampai pada asumsi deduktif, sehingga kesimpulannya juga sesuai dengan asumsi deduktif yang telah ditetapkan sebelumnya.

Aura semakin meredupnya kemenangan SBY dari awal juga sudah nampak pada saat deklarasi di sabuga, SBY tidak memakai lagi busana biru kebesaran Partai Demokrat, malah memakai stelan semi jas berwarna merah. Ini juga nampak jika kita mencermati baliho kampanye SBY-Boediono yang seragam seperti yang nampang di persimpangan Pancoran, ilustrasi gambar itu terlalu kontras, pewarnaan biru kurang tegas, kurang semangat dan nampak terkesan kurang Pede di pewarnaan sehingga seolah tidak nyambung dengan slogan “lanjutkan”. Anda bisa bandingkan dengan baliho SBY pada masa kampanye Pileg, goresan pewarnaan Birunya lebih tegas dan hidup. Sebabnya, slogan “lanjutkan” juga terasa sudah tidak nyambung lagi, SBY mau melanjutkan apa sementara tidak berpasangan lagi dengan JK. Slogan ini seperti menohok JK dari belakang, “JK mari kita lanjutkan, tapi tidak dengan kamu lagi.”. Sehingga juga tidak mengherankan SBY juga tersinggung dengan slogan JK, “Lebih Cepat Lebih Baik,” penafsiran SBY lamban dan peragu juga karena SBY sendiri menggiring penafsiran opini ke arah itu. Contoh kecil, jika kita mengatakan si A lebih bagus, bukan berarti kesimpulan finalnya yang lain lebih buruk. Tapi SBY ternyata memakai silogisme ini.

Kesimpulannya menjelang Pilpres putaran pertama aura kemenangan SBY semakin meredup, dan memasuki putaran kedua aura kemenangan itu telah sirna. Entah di ambil si brengose jilbab loro atau si tahi lalat cs jomblo. Yang jelas bukan lagi si bongsor si pembaca puisi yang kemayu. Wallahualam.

Salam Kompasiana Indonesia.

5 Tanggapan to “Aura Kemenangan SBY Mulai Meredup”

  1. G’ boleeehh!!!!!!!
    Moga2 sby yang juara, kita sudah tau gimana perempuan memimpin kemaren?.. -_-” G’ BECUS!!!!
    Lebih baik sby dunk ^^b

    Kedai

  2. Masyarakat tidak sebodoh sebagaimana anggapan banyak elit. Masyarakat juga punya penilaian yang kadang lebih obyektif dan rasional dibanding para elit oportunis yang bergelar Prof. Dr. Magister….. Saya sepakat bahwa banyak lembaga survei yang tidak independen. Mereka hanya mau membentuk opini, seolah-olah SBY-Boediono menang. Mereka berharap masyarakat akan memilih yang SBY-Boediono yang diopinikan “menang”. Sekarang banyak masyarakat yang justru meneriakkan slogam : JANGAN “LANJUTKAN” PENDERITAAN RAKYAT. mengutip pernyataan Gus Pur di acara Republik Mimpi. SBY-Berbudi, SBY-Boediono…..SBY-No !!!!!!!!!!!

  3. tforce2009 Says:

    roda selalu berputar, Gan
    http://tforce2009.wordpress.com/

  4. Tukang Survey Says:

    Di Balik Wajah Santun SBY
    Raden Trimutia Hatta
    Susilo Bambang Yudhoyono
    (inilah.com/ Wirasatria)

    INILAH.COM, Jakarta – Kesantunan kini menjadi ikon dari capres SBY yang acapkali menggembar-gemborkannya. Namun ternyata, apa yang digemborkan tak sejalan dengan apa yang dilakukannya. Ada apa di balik kesantunan itu?

    Berdasarkan riset Strategy Public Relations (PR) terhadap 1.689 berita dalam kurun 1 Juni hingga 22 Juni 2009 dari delapan koran terbitan Jakarta dan tiga media online menunjukkan, SBY-Boediono mendapat serangan kampanye negatif sebanyak 163 kali dan menyerang 128 kali, sedangkan Jusuf Kalla-Wiranto (JK-Win) 89 kali menyerang dan diserang, serta Megawati-Prabowo (Mega-Pro) menyerang sebanyak 78 kali dan diserang 67 kali.

    Hasil analisa Strategy PR, berita-berita yang berisi kampanye negatif terhadap JK-Win bersumber dari kubu SBY-Boediono dengan prosentase 79,8 persen dan dari kubu Mega-Pro hanya menyumbang 4,5 persen. Sementara, berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap SBY-Boediono ternyata sumber terbesarnya dari JK-Win yaitu 52,1 persen dan dari kubu Mega-Pro sebesar 45,4 persen.

    Sedangkan 85,1 persen berita yang bermuatan kampanye negatif terhadap Mega-Prabowo disumbang oleh kubu SBY-Boediono. Dan dari kubu JK-Wiranto hanya menyumbang 3% bagi kampanye negatif Mega-Prabowo.

    Di mata pakar filsafat politik UI Rocky Gerung, hasil survei itu menunjukkan selama ini kesantunan yang selalu diucapkan SBY tak lebih dari sekadar topeng belaka. Apa yang diucapkan SBY ternyata tidak sejalan dengan fakta di lapangan.

    “Memang kesantunan itu hanya sebuah topeng saja jadinya, untuk menyembunyikan kebenaran yang ada. Demi kemenangan strategi kompetitor dihalangi dan demi yang substansial, yang kultural menjadi pagar,” kata Rocky.

    Ia menilai, dengan adanya hasil risat Strategi PR itu juga menunjukkan kegagalan dari tim kampanye SBY-Boediono dalam menjalankan strategi kampanye. Sebagai incumbent, SBY itu seharusnya lebih banyak bertahan ketimbang menyerang.

    Untuk itu, sambungnya, bila selama ini SBY ditampilkan sebagai objek penzaliman tapi ternyata paling banyak menyerang, telah menunjukkan ada kekeliruan pencitraan yang dilakukan SBY. “Tim suksesnya perlu dievaluasi itu dan memang kalau dilihat dari pemberitaan di media, JK yang paling menahan diri,” paparnya.

    Berbeda dengan Rocky, pengamat politik LIPI Lili Romli berpendapat apa yang dilakukan SBY bersama timnya selama ini bukanlah merupakan sesuatu yang melanggar etika kesantunan. Sebab, yang terjadi saat ini adalah kampanye sebatas perang kata dan simbol.

    “Ini hal yang wajar dilakukan oleh para kubu capres dan cawapres dalam kampanye negatif. Dimana persoalan menyerang dan diserang merupakan bagian dari pendidikan politik yang tidak melanggar etika kesantunan,” ungkapnya

    Wakil Ketua Partai Demokrat Achmad Mubarok sendiri menampik bila kesantunan SBY hanyalah sebuah topeng. Sebab, yang paling banyak menyerang itu adalah tim kampanye SBY-Boediono bukan SBY secara pribadinya sendiri.

    “Kalau dari SBY itu yang menyerang bukan dari Pak SBY-nya langsung tapi timnya dan itu bukan kehendak Pak SBY. Pak SBY sendiri selalu menegur timnya yang kurang proporsional. Kalau dari kubu JK-Wiranto, justru yang paling banyak menyerang itu JK-nya langsung. Sama halnya dengan kubu Mega-Prabowo yang menyerang langsung itu adalah Mega dan juga Prabowo-nya langsung,” katanya Guru Besar Psikologi Islam UIN Jakarta ini.

    Untuk itu, menurutnya, kalau yang dipakai ukurannya adalah serangan kandidat terhadap kandidat, maka SBY akan jadi yang paling sedikit menyerang. Mubarok mengakui, penyebab banyaknya serangan dari kubu SBY-Boediono itu berasal dari Jubir SBY-Boediono, Rizal Mallarangeng.

    Selama ini, lanjut Mubarok, internal Partai Demokrat selalu merasa resah dengan manuver-manuver yang dilakukan Rizal. “Rizal itu telah dianggap merusak citra SBY, mungkin karena itu SBY-Boediono jadi yang paling banyak menyerang. Kita juga sudah minta agar Rizal mengubah gaya berkampanyenya,” cetusnya.

    Batas kesantunan dalam berpolitik memang tidak jelas. Sesuatu yang dianggap santun belum tentu dianggap sama oleh pihak lainnya. Terlepas dari itu, seyogianya seorang pemimpin harus satu kata satu perbuatan, tanpa harus memakai topeng.[L4]

  5. Berarti Aura tidak menentukan kemenangan donk,,,??
    Atau anda tidak tahu melihat AURA,,,??
    Prediksi bahwa JK-Win menang di ACEH hasilnya BAGAIMANA,,?? JK-Win unggul atau malah paling bontot,,??
    Pilihan Masyarakat adalah buah dari hati, anda nggak akan pernah bisa memprediksikan isi hati orang lain dengan kalkulasi angka, Warna baju, kemudian anggka 99 kalau bergerak lebih dari 2x (999) akan bergeser jadi 666, apa dasarnya,,,???
    Wah bener-bener prediksi yang nggak mutu,,,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: