Sandiwara Boediono Di Century

Skandal Bank Century, seperti halnya skandal BLBI, mengingatkan para analis ekonomi-politik dan publik tentang fenomena muslihat kaum kapitalis yang secara menyeramkan menggasak sumber daya ekonomi rakyat tanpa peduli ribuan orang jatuh melarat karenanya.

Meminjam perspektif jurnalis Naomi Klein, jenis kapitalisme neoliberal ini disebut sebagai ‘kapitalisme bencana’. Naomi Klein dalam bukunya The Shock Doctrine; The Rise of Disaster Capitalism, menyebut kapitalisme bencana itu melanda negara-negara berkembang termasuk Indonesia.

Dalam kasus bank Century yang membuat publik gusar dan geram ini, para analis menyatakan perlu tranparansi pengambilan keputusan soal bail out ke Century sebesar Rp 6,7 triliun itu. Karena bail out adalah masalah besar mengingat ini soal uang rakyat, dus soal kerugian uang negara.

Kasus Century itu termasuk jenis kapitalisme bencana. Kalangan analis mendesak Presiden SBY harus buka-bukaan dalam pemberian dana talangan (bail out) ke Bank Century. Hal tersebut penting karena ada dugaan kuat, penyelamatan Bank Century untuk menyelamatkan nasabah besar yang menyumbang parpol. “Presiden jangan sampai terkesan melakukan pembiaran, karena bisa bercitra crime by omission,” kata Burhanudin Muhtadi MA, peneliti Lembaga Survey Indonesia.

Sejauh ini, beberapa fakta krusial di balik bail out Century menunjukkan adanya kejanggalan upaya kekuatan swasta menggunakan pejabat negara untuk mencaplok uang rakyat melalui kebijakan bail out.

Pertama, Bank Century nasabahnya hanya 65 ribu orang, 0,1 persen dari total seluruh perbankan, dan yang total aset Century Rp 15 triliun, dana masyarakat yang terkumpul Rp 10 triliun, dan hanya punya 7 cabang. Ini mencurigakan, kenapa di bail out Rp 6,7 triliun.

Yang paling mungkin adalah ada usaha penyelamatan nasabah kakap dan adanya motif kekuasaan (politik) dari Boediono dan Sri Mulyani di baliknya.

Darmawan Sinayangsah, peneliti ekonomi politik lulusan Fisip-UI, menduga Boediono dan Sri Mulyani memiliki motif politik untuk melakukan bail out. Meski tidak menerima sepeser pun duit dari Century, namun motifnya mengarah jelas ke kekuasaan. “Dengan melakukan bail out Century, Boediono dan Sri Mulyani diduga bermotif menyelamatkan dana deposan kakap yang menyumbang dana kampanye pilpres,” kata Deputi Direktur Freedom Foundation itu.

“Ada dugaan, aliran dana dari deposan Century ini ke salah satu konsultan politik. Ini yang saya dengar sedang diselidiki dalam audit BPK. Para politisi dan analis amat menunggu hasil audit BPK itu,” tambah Darmawan.

Kedua, motif Boediono dan Sri Mulyani menyelamatkan Century diduga juga politik (kekuasaan) terkait dengan informasi bahwa kisruh soal Century ternyata pernah membuat para pejabat di Bank Indonesia berselisih paham. Gubernur BI saat itu, Boediono yang mengusulkan agar Century di-bail out, sementara Deputi Gubernur BI, Siti Fadjrijah minta agar Century dilikuidasi atau ditutup.

Skenario penyelamatan Bank Century harus dilihat dari pengambilan putusan oleh Bank Indonesia (BI) era kepemimpinan Boediono, yaitu tentang persyaratan bank mendapatkan Fasilitas Pembiayaan Darurat (FPD).

Anggota Komisi XI DPR-RI fraksi PPP, Habil Marati menjelaskan pada 18 November 2008, ketika Boediono masih menjabat sebagai Gubernur BI, melakukan perubahan tentang persyaratan bank yang dapat menerima FPD.

Pada 18 Nopember Boediono mengesahkan persyaratan baru FPD pengganti persyaratan sebelumnya. Boediono mengubah Peraturan Bank Indonesia (PBI) sebelumnya, yaitu bank yang boleh menerima fasilitas pembiayaan darurat hanya yang memiliki CAR 8%. Tetapi, oleh Boediono PBI ini diubah, dengan dikeluarkan PBI No.10/31/PBI/2008 tentang fasilitas pembiayaan darurat, di mana ditetapkan persyaratan CAR 5% bagi perbankan yang ingin mendapatkan FPD.

“Langkah mengubah PBI untuk mendapatkan FPD pada CAR 5% dari sebelumnya 8% menjadi 5% adalah terobosan yang saya anggap sengaja dilakukan, demi memuluskan rencana Bank Century mendapatkan fasilitas penjaminan dana,” kata Habil Marati.

Saat itu CAR Century hanya 5%. Artinya, ungkap Habil Marati, kalau sesuai dengan peraturan lama, Century tidak mendapat jaminan dengan sendirinya langsung dilikuidasi. Tetapi dengan diubahnya CAR menjadi 5%, maka Century pun bisa dapat FPD.

Waktu itu CAR Century hanya 5%. Jadi kalau memakai PBI yang lama, maka Century tidak memenuhi persyaratan untuk mendapatkan FPD. Karena saat itu Boediono setuju soal pembentukan PBI baru, berarti harus dipertanyakan kepadanya, kenapa persyaratan CAR diturunkan.

Dengan skandal Century ini, Darmawan dan Iman Sugema berharap, Presiden SBY makin bijak, waspada dan hati-hati memilih tim ekuinnya. Boediono jelas bakal sangat hati-hati untuk mengajukan tim ekuin di kabinet sebab posisi tawarnya terkikis drastis akibat skandal Century ini. “Tapi melalui dukungan IMF dan World Bank, bisa saja Boediono bermain bagai air tenang yang menghanyutkan,” kata Darmawan.

Dikirim oleh Hasan Sastranegara; Citizen Journalism.

https://dimasarasy.wordpress.com/

5 Tanggapan to “Sandiwara Boediono Di Century”

  1. Hallo mbak/mas Dimas, saya ketarik dg tulisan anda, apa anda bisa lbh gamblang isi pembicaraan komisaris polisi DS dg pihak ban Century, kmd siapa2 saja para deposan di bank tsb yg ikut membeayai kampanye pak Sby ??? . Selama ini saya mendukung artikel yg anda masukkan di kompasiana dan banyak yg saya teruskan ke Facebook.
    Saya dibelakang anda, jadi teruskan kritik2 tajam anda, cuma harus hati2 spy tak sampai terjadi kasus Prita pada diri anda.

    Salam perkenalan

    Yoyok

    • yg diketahui dgn pasti adalah hartati murdaya poo dan budi sampurna, keduanya deposan besar century, makasih atas perhatian yoyok, slm

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: